Toko Manisan Ajaib Amberglow Cetak Ulang, Renebook Gelar Bedah Buku
Kota Bogor — Kurang dari sebulan sejak terbit, novel Toko Manisan Ajaib Amberglow sudah memasuki cetakan kedua. Capaian itu dirayakan lewat bedah buku di Bukupreneur, Kota Bogor, pada Sabtu (20/6/2026).
Hujan yang turun sejak siang tidak menyurutkan antusiasme puluhan pembaca, komunitas, dan pegiat literasi yang memadati lokasi. Acara ini juga tercatat sebagai bincang buku pertama yang digelar Bukupreneur sejak toko tersebut berdiri tahun lalu.
Bincang Buku Perdana di Bukupreneur Bogor
Diskusi menghadirkan dua kreator konten buku, Rifqah Fairuz Putri (@rurureadsbooks) dan Shafa Aulia (@shabacabuku). Editor Renebook, Rahastri Fajar Puspasari, bertindak sebagai moderator. Panitia juga membagikan doorprize berupa dua eksemplar Toko Manisan Ajaib Amberglow.
Owner Bukupreneur, Kevin, menyebut acara ini sebagai awal bagi Bukupreneur untuk membuka lebih banyak ruang diskusi literasi. “Ini merupakan bincang buku yang pertama di Bukupreneur. Semoga istiqamah dan semakin baik ke depan,” katanya.
Publishing Manager Rene Turos Group, induk Penerbit Renebook, M. Farobi Afandi, berterima kasih atas sambutan pembaca. “Belum sebulan terbit, buku ini sudah memasuki cetakan ulang. Terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah menyambutnya dengan antusias. Mari kita rayakan perjalanan buku ini bersama-sama,” ujarnya.
Kisah Magis dengan Kedalaman Emosi
Rahastri Fajar Puspasari, yang akrab disapa Puspa, menjelaskan bahwa novel ini berkisah tentang sebuah toko manisan misterius yang diyakini mampu menolong para pengunjungnya keluar dari beragam persoalan hidup. Menurutnya, daya tarik cerita tidak hanya bersumber dari unsur magis, tetapi juga dari kedalaman emosi dan masalah yang dihadapi tiap tokoh.
“Kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang berbeda. Buku ini memiliki elemen magis yang kuat, tetapi di balik itu tersimpan kedalaman emosional yang jarang ditemukan dalam fiksi sejenis. Lewat bedah buku ini, kami berharap pembaca bisa mendapatkan pengalaman membaca yang lebih kaya,” tutur Puspa.
Tanggapan Kreator Konten Buku
Shafa Aulia mengaku merasa dekat dengan cerita, terutama dengan tokoh berusia 25 tahun yang menurutnya mewakili pengalaman banyak anak muda. “Buku ini sangat relate dengan aku, terutama tentang tokoh yang berusia 25 tahun. Di usia itu, kita sering berada di fase kebingungan, mencari jati diri, dan menghadapi beban yang tidak selalu terlihat. Buku ini berhasil menangkap perasaan itu dengan sangat baik,” katanya.
Bagi Shafa, unsur magis justru membuat persoalan emosional dalam cerita lebih ringan dicerna. “Manisan-manisan di Amberglow seperti metafora kehidupan. Tampak manis dari luar, tetapi menyimpan kisah yang terkadang pahit. Itu yang membuat buku ini begitu membekas,” ujarnya.
Rifqah Fairuz Putri atau Ruru menyoroti keragaman sudut pandang dalam novel ini, yang mengajak pembaca memahami masalah setiap tokoh tanpa tergesa-gesa menghakimi. “Kita diajak melihat perspektif orang lain. Setiap tokoh yang datang ke toko Amberglow memiliki latar belakang dan persoalannya masing-masing, dan pembaca diajak memahami mereka tanpa menghakimi. Itu yang membuat buku ini istimewa,” ucapnya.
Ruru juga menyebut bagian akhir novel sebagai salah satu yang paling berkesan. “Bagian penutupnya benar-benar menjadi klimaks yang memukau. Semua perspektif yang sebelumnya dibangun bertemu di akhir dan membuat pembaca perlu sejenak mencerna semuanya,” katanya.
Healing Fiction dan Ekosistem Pembaca
Selama kurang lebih satu setengah jam, diskusi juga menyinggung perkembangan genre healing fiction di dunia literasi Indonesia. Para pembicara berpendapat bahwa cerita bertema penyembuhan diri tidak harus lepas dari realitas sosial; justru, genre ini bisa menjadi jalan untuk melihat beragam masalah masyarakat modern.
Sesi tanya jawab yang interaktif menutup acara. Peserta tampak tertarik pada proses kreatif di balik dunia Amberglow dan pesan yang disisipkan lewat kisah para tokohnya.
Lewat kegiatan seperti ini, Penerbit Renebook terus berupaya mempertemukan buku dengan pembaca, kreator konten, komunitas, dan pelaku industri literasi. Bedah buku tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan karya, tetapi juga diharapkan memperluas percakapan tentang buku dan menumbuhkan ekosistem pembaca yang aktif.
Poin Penting
- Novel Toko Manisan Ajaib Amberglow memasuki cetakan kedua kurang dari satu bulan sejak terbit.
- Bedah buku digelar di Bukupreneur, Kota Bogor, pada Sabtu, 20 Juni 2026, dan menjadi bincang buku perdana di toko tersebut.
- Pembicaranya kreator konten Rifqah Fairuz Putri dan Shafa Aulia, dengan editor Renebook Rahastri Fajar Puspasari sebagai moderator.
- Diskusi sekitar satu setengah jam itu juga membahas perkembangan genre healing fiction di Indonesia.