Turos Pustaka Luncurkan Buku Politik Kaum Tertindas Bersama Feri Amsari dan Alwijo di Markas Indonesia Book Party
BEKASI — Penerbit Turos Pustaka bersama IBP Library meluncurkan sekaligus membedah buku Politik Kaum Tertindas di Djon Books & Coffee, Bekasi, pada 10 Oktober 2026. Dalam diskusi bertajuk “Penguasa Dzolim” itu, pakar hukum tata negara Feri Amsari mengkritik praktik blusukan pemimpin yang menurutnya telah kehilangan esensi.
Acara berlangsung pukul 16.00–17.30 WIB dan dihadiri sekitar 65 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, pegiat literasi, dan masyarakat umum. Selain Feri, diskusi menghadirkan Alwi Johan sebagai pembicara.
Mengenal Buku Politik Kaum Tertindas
Judul lengkap buku ini adalah Politik Kaum Tertindas: Bagaimana Islam Membongkar Keculasan Penguasa dan Mendorong Umat untuk Bersuara. Isinya merupakan terjemahan kitab Nashihah al-Muluk karya Imam al-Ghazali (1058–1111 M), dialihbahasakan oleh Afifah Ahmad, dan diterbitkan Turos Pustaka pada September 2026.
Dari sudut etika politik Islam, buku ini membahas tanggung jawab moral penguasa, penegakan keadilan, dan akibat penyalahgunaan kekuasaan. Al-Ghazali memandang jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan keistimewaan untuk mengejar kemewahan atau kepentingan diri. Prinsip itu menjadi pijakan untuk menilai relasi penguasa dan rakyat, khususnya dalam hal transparansi, akuntabilitas, dan keberanian bersuara kritis.
Feri Amsari, dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas, juga menulis kata pengantar buku ini. Di forum tersebut, ia mengajak peserta menimbang relevansi gagasan al-Ghazali bagi persoalan kepemimpinan saat ini.
Feri Amsari: Blusukan Perlu Dimurnikan
Feri berpendapat blusukan harus dikembalikan ke tujuan awalnya, yakni memahami keadaan rakyat secara langsung, bukan menjadi tontonan publik. Kepedulian pemimpin, katanya, mesti lahir dari kesadaran akan tanggung jawab, bukan dari kebutuhan membangun citra.
“Kita harus memurnikan blusukan, karena sekarang blusukan disertai dengan mata yang banyak. Sedang dahulu, Nabi Daud hingga Umar bin Khattab tidak butuh banyak mata untuk itu,” ujar Feri.
Ia menambahkan, turun ke tengah masyarakat belum tentu menandakan keberpihakan. Yang lebih menentukan adalah kesungguhan untuk mendengar, memahami, dan menuntaskan masalah nyata yang dihadapi rakyat.
Alwi Johan Ingatkan Bahaya Pujian
Alwi Johan menyoroti sisi lain kekuasaan, yaitu pujian berlebihan yang kerap mengelilingi pemimpin. “Pemimpin itu tidak boleh terlena dengan pujian-pujian, karena pujian itu sesungguhnya tidak ada yang genuine,” tegasnya.
Kedua pembicara sepakat bahwa integritas kepemimpinan dijaga lewat kepekaan terhadap persoalan rakyat dan kesediaan menerima kritik. Diskusi berjalan interaktif melalui pemaparan dan tanya jawab, lalu diakhiri dengan sesi tanda tangan buku oleh Feri Amsari.
Lewat kerja sama ini, Turos Pustaka dan IBP Library ingin membuka akses yang lebih luas pada khazanah pemikiran Islam klasik serta menyediakan ruang diskusi kritis tentang kekuasaan, keadilan, dan tanggung jawab pemimpin.
Poin Penting
- Turos Pustaka dan IBP Library meluncurkan dan membedah Politik Kaum Tertindas di Djon Books & Coffee, Bekasi, pada 10 Oktober 2026, pukul 16.00–17.30 WIB.
- Buku ini adalah terjemahan Nashihah al-Muluk karya Imam al-Ghazali oleh Afifah Ahmad, terbit September 2026.
- Feri Amsari, penulis pengantar buku, menyerukan agar praktik blusukan dimurnikan dari kepentingan pencitraan.
- Sekitar 65 peserta hadir, dan acara ditutup dengan penandatanganan buku oleh Feri Amsari.